Curhat dikit, tiba-tiba aja pengen nulis random tentang hal yang kupikirkan lama sekitar berbulan-bulan yang lalu setelah bertemu dengan seseorang yang menurutku "she has a lot of fake faces" haha 😅. The point is about thing that really hateful; seseorang yang kurang bersyukur dan selalu mengeluh apalagi selalu iri dengan kondisi dan keberhasilan oranglain. Biasa saja dengar kata mengeluh, semua orang pernah melakukannya 'kan, tetapi salah besar jika itu sangatlah berlebihan. Membandingkan diri dengan oranglain, tidak suka dengan keberhasilan oranglain. Ambil permisalan yang simple saja ya, (sorry kalo membingungkan ngga pandai buat permisalan, nih 🙏🙏) sebut saja dia itu adalah Ana dan Sika (misal) : Ana sangat iri dengan apapun yang dimiliki Sika, Sika cantik, punya pekerjaan bagus, punya suami baik dan kaya, dan Sika disukai banyak orang. Semua hal yang dimiliki Sika menurut Ana adalah baik yang salah dan slalu diirikan, Ana slalu merasa orang yang teerrrr-lemah atau bisa dianggap sebagai titik dalam sgala hal apapun itu - dia adalah “KORBAN”, tidak bisa dipersalahkan, anggap saja slalu benar. Tragisss merasa slalu benar tapi salah. Tidak ada hentinya dia slalu membandingkan hidupnya dengan oranglain, akhirnya dia sperti menuntut Tuhan mengapa dia berbeda.. konyol sekali menurutku.😏
Yang terakhir adalah dia mungkin
memimpikan apapun yang dimiliki Sika padahal
tidak tau bagaimana dan seberapa besar pengorbanan yang dikeluarkan Sika untuk mendapat itu semua > usaha, ibadah, bersyukur, dan slalu baik
dengan semua orang. Tidak ada yang mudah untuk mencapai sesuatu. Disini Ana hanya
mengambil mentahan apa yang sudah dilihatnya, ibarat makan ikan yang masih
segar tanpa perlu dimasak dulu. Saking irinya
dia menjadi sok/pura-pura baik dengan
Sika dan meniru Sika haha parah sekaliii..
menjadi seseorang yang munafik, slalu merepotkan oranglain tetapi tangan slalu
terbuka untuk Sika meskipun Sika tidak membutuhkan
pertolongannya (misal2).
Sekarang
begini, apakah dia pernah melihat atau memandang titik dibawahnya? Yang bisa di
bilang mungkin (maaf) kurang beruntung dalam hidup. Tak perlu ada sesal mengapa
hidup tidak pernah bisa memilih selalu berakhir baik, kita hanya bisa membuat
rencana baik dan melakukannya agar hidup ini lebih baik lagi. Salah jika kita
hidup slalu memandang titik teratas untuk pedoman hidup, bisa dipastikan hidup
tidak pernah cukup dan jauh dari kata bahagia. Titik teratas untuk motivasi –
bukan untuk mambandingkan diri dan iri, titik terbawah untuk bersyukur
– seberapapun kondisi sekarang patut disyukuri karena banyak yang tidak
seberuntung kita. Cukup dulu untuk curhatan ini tidak perlu terlalu spesifik agar
tidak mengundang kesalahpahaman. Sekian 🙅
Tidak ada komentar:
Posting Komentar